….”Nya atuh Uwi , ari Uwi panting jeung kekeuh hayang mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen.” Bupati Bandung R.A.A Martanagara dan pejabat kota tahun 1883.
Dalam Indonesia kira-kira, Ok Uwi, jika ingin buat sekolah moga di ridhoi Allah pemilik alam. Mari buat sekolah seperti keinginanmu.Supaya lancar dan tak ada aral melintang, dirikanlah di Pendopo dulu. Jika lancar-lancar saja, silakan pindah ke lokasi lain…
Dialog bersejarah ini terjadi saat Dewi Sartika memohon ijin Bupati Bandung. Sebuah sequel penuh haru, romantik sekaligus inspiratif. Urang Sunda wajib respect perjuangan beliau. Wanita hebat yang lahir di 4 Desember 1884 ini bukan sosok sembarangan. Perjuangannya maha berat, keluarga pemberontak tulen. Selagi muda, Dewi gundah akan peran wanita di tatar Sunda. Kaumnya dianggap terpingirkan,zonder edukasi di atas superioritas dan egoisme kaum pria. Perempuan dianggap sebatas patih goah semata. Ada di belakang rumah mengurus dapur. Sepertihalnya Kartini, ia bertekad: wanita harus pintar , berkiprak banyak dalam peradaban masa itu.
Lelaku mulia yang penuh rintangan. Keluarga Dewi Sartika tak seperti Kartini. Mereka tegar memilih jalan non kooperatif pada Belanda bahkan dicap pemberontak sejati. Ayahnya R. Rangga Somanagara, patih Bandung murni ‘outlaws’ melawan terang-terangan kebijakan kolonial. Ganjarannya tak main-main, dibuang ke Ternate atas tuduhan palsu-rekayasa:Mencoba membunuh Bupati Bandung-Martanegara. Saat itu, Dewi sekolah di kelas III ELS (Europesche Lagere School), dipaksa berhenti dan mengungsi di rumah pamannya, Patih Cicalengka. Penderitaan teramat sangat saat dia masih remaja.
Dewi wanita kuat. Walau derita menerpa, ia memendam misi lebih mulia, berjuang agar wanita Sunda maju bermartabat lewat pendidikan. Artinya, Dewi harus membuat sekolahan, dan pendiriannya wajib berijin penguasa saat itu, sang Bupati yang nyata-nyata membuang Ayahnya. Prioritas ia jalankan, walau dendam kesumat atas perlakuan keluarganya, Dewi tegar mendatangi Martanegara dan pejabat Belanda, inspektur sekolah C. Den Hammer demi ijin itu.
Sejarah mencatat, Martanegara terkejut atas kehadiran Dewi, putri dari orang yang dibuangnya. Saat Dewi tegar membeberkan rencananya, timbul rasa haru dan kagum. Ia lantas merestui gagasan ini seraya berkata,”Nya atuh Uwi (pangilan Dewi sartika) , ari Uwi panting jeung kekeuh hayang mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen.”
Begitulah jalannya sejarah. Tahun 1910 lahir Sakola Kautamaan Istri dan berganti nama jadi Sakola Raden Dewi (1914). Para mojang yang baru mekar menikmati pendidikan umum, keterampilan putri demi masa depan mereka. Berkembang pesat di berbagai daerah di Jawa Barat sekolah ini juga berdiri di Sumatera Barat. Atas jasanya ini ia diberi bintang penghargaan dari Hindia Belanda, bintang mas (gouden Ster) juga anugrah pahlawan nasional tahun 1966. Saat itu ia berkata,” Menurut pendapat saya, wanita tidak berbeda dengan pria. Disamping pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh pada moral wanita pribumi. Pengetahuan yang hanya bisa didapat di sekolah,” kata Dewi yang konon tomboy ini.
Dewi adalah pusakanya Jawa Barat, ia menjadi oase putri Sunda. Jasanya bergeming,kokoh dalam sanubari manusia yang ingat. Masuk 4 Desember, warga Sunda wajib mengingat kelahirannya di tahun 1884, akhir abad ke-19.
Don’t fades away Bu Dewi…


