Jika Anda berpikir penyelundupan logam mahal hanya terjadi di pelabuhan kecil yang kumuh, Anda salah besar. Justru, kejahatan paling rapi sekarang terjadi di terminal kargo udara yang dikelola korporasi besar, di mana pengawasan negara seolah sengaja dihilangkan, membuka jalan bagi hilangnya aset strategis bangsa.

ET Hadi Saputra, S.H. (07-12-2025)

Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin sekalian. Belakangan ini, saya termenung setelah mendengar sebuah cerita yang sangat mengganggu. Bukan cerita horor, tapi cerita tentang kedaulatan negara yang dibobol bukan oleh tank, melainkan oleh jet eksekutif kecil.

Bayangkan, seorang ahli geo-ekonomi ulung dari New York, yang saya sepersenjatai dengan nama Mira, datang ke Jakarta dan langsung menunjuk satu titik kerentanan paling mematukan: terminal kargo udara dengan akses terkontrol. Atau bahasa populernya, private air cargo terminals di kawasan industri.

Mira bilang, area ini adalah titik buta logistik. Blind spot, kata dia.

Kenapa bisa begitu? Karena terminal ini sengaja didesain untuk minim pengawasan institusional. Anda cari pos Bea Cukai permanen di sana? Belum tentu ada. Anda cari komando TNI/Polri yang bersiaga 24 jam? Jangan harap.

Secara hukum kepabeanan (customs law), setiap jengkal pelabuhan atau bandara adalah area pabean yang wajib diawasi. Ini adalah pertahanan terdepan negara. Tapi, ketika kendali diserahkan penuh kepada operator swasta, negara seolah berkata, “Silakan urus diri sendiri, kami percaya.”

Inilah ironinya. Kita sangat ketat di pelabuhan umum, tapi kita sangat santai di gerbang-gerbang khusus. Kita tunduk pada standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (OACI) yang kaku untuk penerbangan komersial, tetapi kita longgarkan untuk jet-jet pribadi yang terbang entah ke mana.

Ini bukan kelalaian, dear pembaca. Ini adalah desain struktural. Tujuannya satu: menciptakan jalur keluar-masuk yang sunyi senyap bagi komoditas bernilai tinggi dan bervolume kecil. Kargo itu bisa disamarkan sebagai spare part mesin atau testing samples. Siapa yang curiga bubuk konsentrat di dalam sealed pouch?

Mira kemudian membuka kotak Pandora yang lebih besar: Logam Langka Teknis (Technical Rare Metals).

Bukan emas, bukan timah biasa. Ini adalah Germanium, Indium, Tantalum—bahan baku chip, teknologi pertahanan, fiber optics. Harganya fantastis, dan volumenya sangat kecil. Satu tas tangan berisi bubuk konsentrat sudah bernilai jutaan Dolar AS.

Anda tidak perlu kontainer yang menarik perhatian. Anda hanya perlu jet eksekutif yang bisa terbang langsung ke Zurich atau Shanghai. Anda tidak perlu izin ekspor mineral yang rumit di bawah Undang-Undang Pertambangan. Anda cukup menyuap beberapa oknum di pintu keluar. Selesai.

Inilah kejahatan yang elegan. Kejahatan mineral terorganisasi yang dimungkinkan oleh kelonggaran hukum yang dibuat oleh negara sendiri. Mira memberi analogi dari berbagai belahan dunia—dari Andes sampai Mekong—pola selalu sama: airstrip swasta menjadi arteri bagi ekonomi bayangan (shadow economy).

Lalu, di mana peran penegak hukum? Mira, si analis dari New York itu, pernah bilang, “Penutupan bandara privat biasanya selalu melibatkan militer. Konspirasinya kompleks.”

Ketika penindakan harus melibatkan militer, itu artinya masalah ini sudah melampaui batas kejahatan ekonomi biasa. Ini sudah menjadi ancaman keamanan nasional (national security threat). Ini bukan lagi urusan penyelundupan, tapi urusan penghilangan aset strategis sebuah bangsa.

Apakah kita akan terus membiarkan private terminal ini menjadi black hole hukum yang menguras masa depan teknologi kita?

Negara harus segera memaksa supremasi hukum di atas kepentingan operasional swasta. Jika tidak, terminal kargo mewah itu hanya akan menjadi monumen kesaksian betapa mudahnya kedaulatan kita dibeli, bahkan hanya dengan janji logistik yang efisien.

Terima kasih, Bapak-bapak, Ibu-ibu, mari kita pikirkan ini dengan jernih.

#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #geopolitik #rareearth #kriminalekonomi #hukumpublik #kedaulatan #beacukai #logistik #privateairport

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here