JAKARTA – Panggung sirkus birokrasi kita hari ini sedang mementaskan babak “Krisis Karakter” yang sangat niretika. Sangat luar biasa melihat bagaimana wajah kepemimpinan nasional kini begitu lekat dengan terminologi Fufufafa—sebuah identitas digital yang aromanya kental bau masa lalu yang penuh kontradiksi. Investigasi nurani kami menemukan bahwa masalah terbesar kita bukan sekadar urusan ijazah atau usia, melainkan urusan integritas mental yang kini resmi menjadi “standar baru” dalam bernegara. Kita sedang dipaksa menonton teater di mana kebijakan publik dikelola dengan gaya Fufufafa—alias sangat mahir dalam urusan seremonial dan pencitraan di layar gawai, namun mendadak lunglai dan gagap saat harus membereskan urusan perut rakyat yang sedang sekarat.
Mari kita bicara jujur (telling the truth). Gaya kepemimpinan Fufufafa ini adalah nisan bagi marwah kepemimpinan yang berwibawa. Di satu sisi, rakyat dicekik oleh berbagai instrumen Pajak dan kenaikan harga pangan, namun di sisi lain, birokrasi justru asyik memamerkan gincu “investasi modal manusia” lewat proyek katering Makan Bergizi Gratis (MBG) yang aromanya amis bau nepotisme. Inilah sirkus yang sungsang; di mana penguasa merasa cukup hanya dengan “oke gas” dan joget digital, sementara kedaulatan data rakyat justru diobral ke Amerika Serikat seolah martabat bangsa bisa dibarter dengan sekadar jatah kursi di meja perjamuan global.

Secara hukum tata negara, keberadaan pemimpin bergaya Fufufafa adalah bentuk devaluasi terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Kita seolah sedang melegitimasi bahwa kematangan berpikir dan kesantunan beradat hanyalah variabel sampah di hadapan kekuatan modal dan jalur “ordal” (orang dalam). Sejarah tidak akan pernah memaafkan era di mana kedaulatan negara resmi dijalankan dengan nalar yang “menclek”—mahir bersilat lidah menghindari audit realita namun beringas dalam memajaki rakyat kecil sampai ke remah-remah jajan harian. Sampaikan opini anda di kolom komentar jika anda muak melihat martabat republik ini resmi dipasung oleh gaya kepemimpinan yang aromanya kental bau pengkhianatan terhadap nalar sehat!


