31.1 C
Jakarta

Strategi Wangi, Dompet Pagi

Published:

Ternyata ijazah mentereng itu bukan jaminan gerai kopi bisa tetap wangi. Membayar mahal orang pintar untuk merusak bisnis adalah sebuah seni yang hanya bisa dilakukan oleh raksasa sekelas Starbucks yang sempat kehilangan harta tiga puluh miliar dolar hanya dalam sekejap mata karena terlalu percaya pada kertas daripada realitas.

Oleh: ET Hadi Saputra. (19-12-2025)

Saya sedang menyeruput kopi pagi ini. Bukan kopi dari gerai hijau yang sedang sakit itu. Saya sedang merenung. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar Starbucks bisa tertipu oleh bualan strategi?

Mereka menunjuk CEO. Latar belakangnya mentereng. Konsultan strategi. Orang ini pasti pintar. Teori di kepalanya pasti penuh dengan matriks dan grafik. Tapi ada satu yang dia tidak tau: bagaimana rasanya berkeringat di balik mesin espresso.

Dalam tujuh belas bulan, uang menguap. Tiga puluh miliar dolar Amerika. Kalau dibelikan gorengan, mungkin Indonesia bisa tertutup bakwan semua. Kenapa? Karena strategi di atas kertas itu seringkali seperti elang yang mencoba mengajari ayam cara mematuk tanah. Si elang merasa hebat karena terbang tinggi, tapi dia tidak pernah tau kalau ayam lebih paham di mana letak cacing yang gemuk.

Di Starbucks, birokrasi jadi panglima. Keputusan melambat seperti siput yang sedang sakit gigi. Karyawan tertekan. Pelanggan kecewa. Investor panik. Ini menarik kalau kita lihat dari kacamata hukum korporasi. Ada yang namanya Fiduciary Duty. Itu kewajiban fidusia. Artinya, direksi harus bertindak dengan hati-hati.

Tapi apa yang terjadi? Mereka abai terhadap Duty of Care. Mereka tidak melakukan due diligence terhadap realitas lapangan. Mereka merasa sudah aman berlindung di balik Business Judgment Rule. Padahal, keputusan bisnis yang tanpa dasar pertimbangan logis itu tetap bisa digugat. Itu kelalaian. Itu negligence.

Kejadian di Amerika ini sebenarnya tamparan keras buat kita di Indonesia. Kita ini senang sekali dengan gelar. Senang dengan retorika. Kita sering memilih pemimpin karena jaringan elite. Hasilnya? Banyak proyek pemerintah yang di atas kertas terlihat sangat cemerlang, tapi mampus saat implementasi.

Kenapa mampus? Karena pemimpinnya tidak pernah bersentuhan dengan tanah. Mereka tidak mengetaui apa yang terjadi di kolong jembatan. Mereka bertindak seperti lebah yang ingin mengumpulkan madu, tapi malah bertingkah seperti beruang yang merusak sarangnya sendiri. Bodoh.

Generasi muda harus sadar. Gelar dan sertifikat itu cuma hiasan dinding. Dunia nyata itu kejam. Dia butuh eksekusi. Dia butuh jam terbang. Bukan sekadar ego yang dibalut kemeja mahal. Seorang builder itu jauh lebih berharga daripada seribu konsultan yang hanya bisa bicara market positioning.

Seorang operator lapangan jauh lebih bisa dipercaya daripada teoritikus yang ketakutan melihat debu. Hukum kita pun sebenarnya mengatur itu. Akuntabilitas. Jangan sampai strategi yang dibuat justru jadi misrepresentation. Pernyataan yang menyesatkan.

Ujung-ujungnya, Starbucks sadar. Mereka ganti si konsultan dengan operator yang paham bau biji kopi. Nilai sahamnya langsung naik. Pelajarannya sederhana: strategi itu cuma alat. Fondasi aslinya adalah eksekusi. Tanpa eksekusi, reputasi hebatmu itu cuma ilusi yang menunggu waktu untuk pecah.

Jangan sampai kita seperti cicak yang bermimpi jadi buaya. Hanya karena merasa bisa merayap di dinding, bukan berarti kamu bisa menguasai rawa. Kalau cuma bisa berteori tapi tidak bisa bekerja, lebih baik diam di rumah saja. Jangan merusak tatanan perusahaan atau negara orang lain. Malu sama gelar.

#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #starbucks #strategibisnis #hukumkorporasi #eksekusi #kepemimpinan #meritokrasi #ekonomimikro #indonesia

Related articles

Recent articles

spot_img