Seorang nenek tua renta dibuang ke semak karena dianggap menghalangi mesin pengeruk emas adalah bukti paling valid bahwa di negeri ini, harga satu nyawa manusia jauh lebih murah dibandingkan harga satu drum solar subsidi yang dikencingi ke tangki alat berat. Kita sedang tidak membicarakan kriminalitas jalanan, melainkan sebuah sirkus peradaban di mana hukum hanya tajam kepada mereka yang tidak punya nomor ponsel orang penting.
Mari kita bicara jujur sebagai manusia, bukan sebagai robot birokrasi yang hobi baca teks pidato. Tanggal 8 Januari 2026 ini, saya bangun dengan rasa mual yang luar biasa. Di layar ponsel, berita soal Nenek Saudah di Rao masih berputar-putar di situ saja. Polisi sudah tangkap satu orang. Namanya IS. Statusnya mahasiswa. Hebat ya, mahasiswa umur dua puluh enam tahun sudah bisa punya ambisi menguasai tanah orang pakai ekskavator. Anda percaya? Saya sih tidak. Kalau Anda percaya, mungkin Anda juga percaya kalau buaya bisa jadi vegetarian kalau dikasih ceramah agama tiap sore.
Kasus ini adalah analogi paling sempurna tentang ekosistem dubuk atau Hyena. Anda tau cara Hyena berburu? Mereka tidak butuh keberanian singa. Mereka cuma butuh gerombolan, mental pengecut, dan kemampuan untuk mencuri apa yang bukan milik mereka. Di Rao, Pasaman, para Hyena ini memakai seragam koordinasi. Ada yang jaga di SPBU untuk memastikan solar subsidi lancar mengalir ke hutan. Ada yang jaga di meja kantor agar izin-izin tidak perlu diperiksa. Dan ada yang jaga di lapangan untuk memastikan mulut warga tetap terkunci.
Malam itu, Nenek Saudah cuma bawa senter. Cahaya kecil yang mencoba melawan kegelapan industri miliaran rupiah. Di mata para pemain emas, senter itu bukan alat bantu lihat. Senter itu adalah ancaman. Karena cahaya, sekecil apa pun, selalu jadi musuh bagi mereka yang terbiasa bekerja dalam bayang-bayang. Maka solusinya sederhana: matikan cahayanya, buang orangnya ke semak. Mereka pikir Nenek Saudah sudah mati. Di kepala para pelaku, nyawa nenek enam puluh delapan tahun itu cuma barang bukti yang harus disembunyikan, bukan manusia yang punya hak untuk hidup di atas tanah ulayatnya sendiri.
Lucunya, setelah kasus ini meledak, narasi yang muncul adalah “konflik keluarga”. Ini humor paling gelap yang saya dengar tahun ini. Sejak kapan sengketa tanah keluarga diselesaikan dengan pengeroyokan dan pembuangan tubuh ke semak? Itu bukan konflik keluarga, itu manajemen krisis ala mafia. Mereka mencoba menurunkan level kejahatan dari “Kejahatan Negara Terorganisir” menjadi “Ribut Tetangga”. Dengan begitu, orang-orang besar di belakangnya bisa tetap tidur nyenyak sambil menghitung gramasi emas yang keluar hari ini.
Kita harus sebut nama kalau mau jujur. Nama-nama seperti Rohom atau Najjar Lubis itu bukan cuma nama orang. Itu adalah simbol dari sebuah sistem bernama “Feodalisme Baru”. Polanya selalu sama dan sangat membosankan: rusak alamnya, racuni sungainya, lalu bangun masjid pakai duit recehan hasil rampokan itu. Itu bukan kedermawanan. Itu adalah biaya pemasaran untuk membeli surga sekaligus membungkam neraka di dunia. Mereka membangun jalan di atas tanah yang mereka hancurkan sendiri. Itu seperti mematahkan kaki orang lalu membelikannya kursi roda sambil minta difoto buat konten pencitraan.
Hari ini, tanggal delapan Januari, kita melihat hukum sedang melakukan akrobat. Menangkap satu mahasiswa adalah cara paling efektif untuk bilang ke publik bahwa “kami sudah kerja”. Padahal, kita semua tau mahasiswa itu cuma centeng. Dia tidak punya modal buat beli alat berat miliaran. Dia tidak punya akses buat ngatur ribuan liter solar. Dia cuma pion yang dikorbankan agar sang raja tidak perlu masuk kotak. Di Indonesia, hukum itu sopan sekali kalau ketemu duit. Dia akan membungkuk, minta izin, dan kalau perlu, pura-pura tidak lihat.
Analoginya begini. Kalau Anda punya rumah, lalu ada orang bawa buldoser masuk ke halaman Anda, menghancurkan taman Anda, dan saat Anda protes Anda dipukuli lalu dibuang ke parit, apakah Anda akan bilang itu “salah paham”? Tidak. Itu adalah invasi. Tapi karena pelakunya punya jejaring “koordinasi”, invasi ini berubah nama jadi “investasi lokal”. Bahasa memang sering dipakai untuk menutupi bau busuk bangkai.
Jangan lupakan soal solar. Ini bagian paling gurih. PETI tidak akan jalan tanpa solar. Solar subsidi itu hak orang miskin, tapi dihisap oleh mesin-mesin pengeruk emas milik orang kaya. Ini adalah pencurian berlapis. Mencuri emas negara, mencuri tanah rakyat, dan mencuri subsidi energi. Dan semua ini terjadi di depan mata aparat. Kalau Anda bilang mereka tidak tau, berarti Anda sedang menghina intelegensi polisi kita. Mereka tau. Semua orang di pasar tau. Burung di pohon pun tau. Masalahnya, tau tidak selalu berarti mau bertindak.
Penutup saya untuk hari ini pendek saja. Keadilan di negeri ini sedang merangkak di semak-semak bersama Nenek Saudah. Dia belum berdiri tegak. Dia masih luka-luka, bersimbah darah, dan dikelilingi oleh para Hyena yang siap menerkam lagi kalau kamera media sudah berpaling. Kalau cuma si mahasiswa yang masuk penjara, sementara toke emasnya masih bisa bagi-bagi bantuan sosial sambil senyum di baliho, maka jangan pernah sebut negara ini sebagai negara hukum. Sebut saja ini sebagai “Negara Sewaan”. Dan harga sewanya sedang dibayar pakai nyawa rakyat kecil. Selamat tidur, Indonesia. Semoga mimpi Anda tidak diganggu suara mesin ekskavator di samping tempat tidur.
#KeadilanUntukNenekSaudah #StopPETI #PasamanMelawan #MafiaTambang #HukumTumpul #RaoBerdarah #SaveTanahUlayat #EmasBerdarah #NegaraSewaan #KedaulatanRakyat


